FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 6-24 BULAN DI WILAYAH PUSKESMAS KELURAHAN PEGANGSAAN DUA B

Authors

  • Ratih Agustin Universitas Mohammad Husni Thamrin, Indonesia
  • Ratna Mutu Manikam Universitas Mohammad Husni Thamrin , Indonesia
  • Dwi Wahyuni Universitas Mohammad Husni Thamrin , Indonesia
  • Petrus Geroda Beda Ama Universitas Mohammad Husni Thamrin , Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.37012/jik.v16i1.3659

Keywords:

Stunting, Berat Badan Lahir, Panjang Badan Lahir

Abstract

Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang ditandai dengan tubuh pendek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kejadian stunting pada balita usia 6-24 bulan di wilayah Puskesmas Kelurahan Pegangsaan Dua B tahun 2021. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 62 balita yang di dapat dengan cara simple random sampling. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2021. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran panjang atau tinggi badan, dan wawancara kueisioner. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan proporsi responden yang stunting sebesar 27.4%. Analisis uji statistik menunjukkan adanya hubungan bermakna antara berat badan lahir dan panjang badan lahir dengan kejadian stunting pada balita. Sedangkan analisis uji statistic menunjukkan tidak adanya hubungan bermakna antara status gizi ibu saat hamil, riwayat ASI eksklusif, dengan kejadian stunting pada balita. Penelitian ini menyarankan agar meningkatkan program edukasi caten dalam pencegahan stunting untuk menghindari kejadian berat badan lahir rendah. Selain itu, bagi lintas sector terkait diharapkan dapat menggerakkan Kader Pembangunan Manusia (KPM) bersama dengan petugas kesehatan dalam mengatasi masalah stunting.

References

Alfarisi, dkk. (2017). “Status Gizi Ibu Hamil Dapat Menyebabkan Kejadian Stunting Pada Balita”. Jurnal Kebidanan Vol.5 No.3. Lampung:Universitas Malahayati.

Anugraheni, Hana Sofia dan Kartasurya, Martha Irene. (2012). Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Anak Usia 12-36 Bulan di Kecamatan Pati, Kabupaten Pati. Journal of Nutriton College Vol.1 No.1 hal 30-37.

Anshori, H. (2013). Faktor resiko kejadian stunting pada anak usia 12-24 bulan. Semarang: Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Asosiasi Dietisien Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia, Persatuan Ahli Gizi Indonesia. (2014). Penuntun Diet Anak. Jakarta:Fakultas Kedokteran UI

Black RE, Allen LH, Bhutta ZA, et al, (2008). Maternal and child undernutrition : Global and regional exposures and health consequences. The Lancet 371: 243-260.

Bunga Astria, Hamam Hadi, I Made Alit, (2015). Pemberian ASI esklusif tidak berhubungan dengan stunting pada anak usia 6-24 bulan di Indonesia. Yogyakarta : Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia

Indrawati, Sri dan Warsiti. (2016). “Hubungan Pemberian Asi Esklusif Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia 2-3 Tahun Di Desa Karangrejek Wonosari Gunungkidul. Skripsi thesis, Universitas 'Aisyiyah:Yogyakarta.

Kemenkes RI. (2010). Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar Indonesia Tahun 2010. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

Kemenkes RI. (2011). Umur Sama, tinggi badan berbeda. Dirjen bina gizi dan KIA Kemenkes RI. Retrieved Februari 10, 2016, from http://www.gizikia.depkes.go.id/terbitan/umur-sama-tinggi-badan-berbeda/

Kemenkes RI, Riskesdas. (2018). Badan Penelitian dan pengembangan kesehatan Kementrian Kesehatan RI.

Khasanah, Hadi dan Paramashanti. (2016). Waktu Pemberian Makanan Pendamping ASI Berhubungan dengan Kejadian Stunting Anak Usia 6-24 Bulan di Kecamatan Sedayu. Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia Vol.4 No.2

Lestari, Purfika Dwi., Rohmah, Nikmatur., dan Utami, Resti. (2019). Hubungan Status Gizi Ibu Saat Hamil dengan Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Arjasa. Jember: Universitas Muhammadiyah Jember.

Lestari, Restika Indah. (2016). Faktor Risiko Kejadian Stunted pada Anak Usia 7-24 Bulan di Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Surakart: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Lupiana, Mindo dan Sutrio. (2019). Berat Badan dan Panjang Badan Lahir Meningkatkan Kejadian Stunting. Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai V0l.12 No.1. Tanjung Karang: Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Tanjung Karang.

MCA. (2014). Gambaran Umum Proyek Kesehatan Dan Gizi Berbasis Masyarakat (PKGBM) Untuk Mencegah Stunting. Diakses dari http://mca-indonesia.go.id/wp-content/uploads/2013/12/Buku-Gambaran-Umum-ok.pdf pada tanggal 21 Januari 2021.

Najahah I. (2014). “Faktor Risiko Panjang Lahir Bayi Pendek di Ruang Bersalin RSUD Patuh Patut Patju Kabupaten Lombok Barat”. Media Bina Ilmiah, 8:16-24.

Nasution, D. (2014). Hubungan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dengan Kejadian Stunting pada Anak Usia 6-24 Bulan di Kota Yoyakarta. Tesis. Program Ilmu Kesehatan Gizi Masyarakat UGM. Yogyakarta.

Ni’mah, K., & Nadhiro, S. R. (2015). Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita. Media Gizi Indonesia, 10(1): 13–19.

Nugraheni, Dini., dkk.(2020). ASI Eksklusif dan Asupan Energi Berhubungan Dengan Kejadian Stunting pada Usia 6-24 Bulan di Jawa Tengah. Journal of Nutrition College. Semarang:Universitas Diponegoro

Paulina, Novia. (2019). Hubungan Panjang Badan Lahir dengan Kejadian Stunting pada Balita di Puskesmas Sentolo I Kabupaten Kulon Progo. Yogyakarta:Poltekkes Kemenekes Yogyakarta.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (PMK) Nomor 2 tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak. Diakses pada tanggal 24 Oktober 2020.

Roesli, Utami. (2013). Mengenal ASI Eksklusif, PT Pustaka PembangunanSwadaya Nusantara, Jakarta.

Ruaida, Nilfar dan Soumokil, Octovina. (2018). Hubungan Status KEK Ibu Hamil dan BBLR dengan Kejadian Stunting pada Balita di Puskesmas Tawiri Kota Ambon. Ambon: Poltekkes Kemenkes Maluku.

Sahitarani, Agustina, dkk. (2017). Kaitan Stunting dengan Frekuensi dan Durasi Penyakit Infeksi pada Anak Usia 24-59 bulan di Kecamataan Sedayu, Kabupaten Bantul. Journal of Nutrition College : Yogyakarta.

Sampe, Anita SJMJ, dkk. (2020). Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Stunting pada Balita. Makassar: Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada Vol.11. No.1

Supariasa, I.D.N. dkk. (2013).Penilaian Status Gizi (Edisi Revisi).Jakarta: PenerbitBuku Kedokteran EGC.

Vaozia, Syifa dan Nuryanto. (2016). Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Anak Usia 1-3 Tahun (Studi di Desa Menduran Kecamatan Brati Kabupaten Grobogan). Journal of Nutrition College Vol.5 No.4. Semarang: Program Studi Ilmu Gizi Universitas Diponegoro.

Walson JL and Berkley JA, (2018). The impact of malnuturuin on childhood infections.Curr Opin Infect Dis, 31: 231-236

Warsini, Kristiana Tri., Hadi, Hamam., Nurdiati, Detty Siti. (2016). Riwayat KEK dan anemia pada ibu hamil tidak berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 6-24 bulan di Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia, Vol.4, No.1:29-40.

WHO.(2007). Indicators for assessing infant and young child feeding practices Part 1 Definitions. In: Dept. of Child and Adolescent Health and Development. Washington DC [USA]: World Health Organization

Widyawati, Wahyu, (2016). Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Balita Mengenai Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) dengan Status Gizi pada Balita Usia 6-24 Bulan di Kelurahan Semanggi Kecamatan Pasar Kliwon Kota Surakarta, Surakarta.

Wiyogowati, C. (2012). Kejadian Stunting pada Anak Berumur dibawah Lima Tahun (0-5 bulan) di Provinsi Papua Barat tahun 2010 (Analisis Data Riskesdas 2010). Skripsi. Depok:FKM UI.

Downloads

Published

2024-03-30

How to Cite

Agustin, R., Ratna Mutu Manikam, Dwi Wahyuni, & Petrus Geroda Beda Ama. (2024). FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 6-24 BULAN DI WILAYAH PUSKESMAS KELURAHAN PEGANGSAAN DUA B . Jurnal Ilmiah Kesehatan, 16(1), 243–253. https://doi.org/10.37012/jik.v16i1.3659

Citation Check